Surabaya, seputarindonesia.net – Dalam rangka memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2025, Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya bersinergi dengan Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba (LRPPN) Surabaya menggelar kegiatan istighosah dan santunan anak yatim. Acara yang sarat makna ini digelar pada Sabtu (5/7/2025), bertepatan dengan bulan Suro—bulan penuh berkah dan spiritualitas dalam penanggalan Jawa.
Kegiatan yang berlangsung dari sore hingga malam hari ini diikuti oleh sekitar 50 peserta dari berbagai elemen masyarakat. Hadir di antaranya perwakilan dari Yayasan Masjid Rahmat Surabaya dan sejumlah lembaga rehabilitasi lokal. Selain sebagai bentuk kepedulian sosial, kegiatan ini juga menjadi simbol nyata komitmen kolektif dalam menyelamatkan generasi muda Surabaya dari ancaman narkoba.
Kepala BNNK Surabaya, Kombes Pol. Heru Prasetyo, S.I.K., M.Hum., menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif LRPPN dalam mengusung pendekatan spiritual dan sosial sebagai bagian dari upaya pencegahan dan rehabilitasi narkoba di tengah masyarakat.
“Meskipun metode seperti hipnoterapi belum sepenuhnya masuk dalam sistem rehabilitasi nasional, namun kami terbuka terhadap segala bentuk inovasi yang membawa dampak positif,” ungkap Kombes Heru.
Lebih lanjut, Heru menegaskan bahwa BNNK Surabaya mendorong pendekatan yang lebih restoratif dan humanis dalam penanganan penyalahguna narkoba.
“Yang terpenting sekarang adalah menjauhi narkoba. Jika saat ini Anda masih menjadi penyalahguna, segera melaporkan diri ke BNNK Surabaya. Kami pastikan, jika Anda melapor secara sukarela, tidak akan kami proses secara hukum, melainkan akan kami rehabilitasi,” tegasnya.
Senada dengan hal itu, Ketua LRPPN-BI Kota Surabaya, Siswanto, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk nyata dari komitmen bersama untuk memperluas akses rehabilitasi, terutama bagi para pecandu yang ingin berubah secara sukarela.

“Pendekatan berbasis kasih sayang dan spiritualitas menjadi kunci. Kami ingin penyalahguna tidak merasa dikucilkan, melainkan didukung untuk bangkit,” ujarnya.
Ia juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus digelar secara berkelanjutan dan menjadi pemantik semangat bagi masyarakat untuk bersama-sama memerangi narkoba di lingkungan masing-masing.
“Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga ke depan acara seperti ini bisa dipersiapkan dengan lebih baik dan berdampak lebih luas,” tambah Siswanto.
Meskipun sederhana, kegiatan ini mengandung nilai kemanusiaan yang mendalam. Tidak hanya memberikan kebahagiaan kepada anak-anak yatim, tetapi juga memperkuat kesadaran kolektif bahwa perang melawan narkoba bukan hanya tugas aparat, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Melalui istighosah dan santunan ini, BNNK dan LRPPN menegaskan bahwa pendekatan spiritual dan empati sosial bisa menjadi solusi alternatif dalam memutus mata rantai penyalahgunaan narkoba.
“Semangat kepedulian ini menjadi fondasi kuat dalam membangun masyarakat yang bersih dari narkotika,” tutup Siswanto.

