Namlea,Seputarindonesia.net – Setelah empat hari berjalan, upaya penertiban dan pengosongan kawasan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Gunung Botak (GB) di Desa Dava, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, Maluku, menghadapi hadangan dan penolakan keras dari masyarakat setempat. Merespons situasi ini, Polres Pulau Buru mengambil langkah cepat dengan mengundang 18 aktivis dan pemuda dalam sebuah forum dialog.
Undangan dialog yang dikeluarkan Polres Buru tersebut merujuk pada Surat Gubernur Maluku Nomor 500.10.2.3/1052 tanggal 19 Juni 2025, mengenai penertiban, pengosongan, dan penataan wilayah pertambangan emas Gunung Botak.
Dialog ini diinisiasi oleh Tim Satgas Sosialisasi dan Himbauan Penertiban PETI di Polres Buru. Acara penting ini dijadwalkan berlangsung hari ini, pukul 09:00 WIT, dan bertujuan untuk menyosialisasikan himbauan penertiban serta menampung aspirasi publik.
Penolakan masyarakat selama empat hari terakhir terpusat pada isu masuknya koperasi yang akan mengambil alih penataan wilayah tersebut.
Menurut hasil wawancara dengan Raja Fandi Wael, penolakan ini terjadi lantaran para koperasi yang berencana masuk belum menyelesaikan hak kepemilikan lahan milik masyarakat adat maupun ahli waris pemilik lahan.
Penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat sudah trauma berat dengan praktik koperasi tambang terdahulu. Koperasi dan perusahaan sebelumnya, seperti PT PIP, BPS, dan P3, masuk dengan menimbulkan perselisihan dan kerugian bagi masyarakat adat.
“Bahkan ada masyarakat adat yang terima uang perbulan hanya Rp50 ribu dari hasil bagi-bagi oleh pihak perusahaan atau koperasi pada jaman itu,” ungkap sumber yang mengetahui kondisi tersebut.
Masyarakat adat dan pemilik lahan kini bersikap sangat hati-hati dan menuntut penyelesaian hak sebelum penertiban dilanjutkan.
Selain masalah hak lahan, masyarakat juga menyoroti jejak buruk yang ditinggalkan oleh perusahaan dan pemilik koperasi lama.
“Perusahaan dan pemilik koperasi juga pergi tinggalkan limbah pengolahan yang sampai hari ini terlihat di lokasi Wasboli, dan jalur H Samping rumah Bapak robot,” sebut sumber tersebut, mengindikasikan masalah lingkungan yang belum terselesaikan.
Dialog hari ini diharapkan menjadi titik temu antara keinginan penertiban aparat dan tuntutan keadilan masyarakat adat.
Nama-nama aktivis dan pemuda yang diundang untuk hadir di Polres Buru antara lain: Zulkifli Nustelu, Taher Fua, Rauf Wabula, Firman Mabait, Ongen Hukul, Fandi Nacikit, Epot Latbual, Ketua KNPI Bursel, Kamarudin Latbual, Aci Gibrihi, Abu Fua, Mei Lesnusa, Serli Saleki, Taju Tasijawa, Sadu Gibrihi, Ongen Rada, Stefanus Waemese, dan Wider Nurlatu.
Empat Hari Dapat Handangan Penertiban Tambang GB, Polres Buru undang 13 Aktivis Untuk Hadiri Dialog
Leave a comment

