Surabaya, Seputarindonesia.net – Langkah Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, yang melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Rajawali dan memviralkan temuan dugaan Bahan Bakar Minyak (BBM) tercampur air, menuai kritik keras dari kalangan relawan pendukung Presiden Prabowo Subianto.
Tindakan politisi PDIP tersebut dinilai sebagai manuver politik yang tidak produktif dan disinyalir sarat muatan politik untuk melunturkan kepercayaan publik terhadap pemerintah pusat.
Dugaan Politisasi Isu BBM
Ketua Umum kelompok relawan pendukung Prabowo Subianto, Pilar 08, Kanisius Karyadi, menilai tindakan Armuji yang langsung memviralkan temuannya tanpa koordinasi intensif dengan Pertamina atau lembaga terkait adalah bentuk yang merugikan.
”Langkah Armuji dengan konten ini tentu sangat merugikan. Karena belum ada pengecekan intensif dan valid dari berbagai pemangku kepentingan, tapi sudah dikontenkan dan diviralkan,” kata Kanisius, Senin (3/11/2025).
Kanisius menegaskan, sidak tersebut bukan hanya merugikan pelaku usaha energi, tetapi juga dinilai sebagai upaya mengkritik kebijakan pemerintah pusat melalui isu yang melibatkan Pertamina.
”Tindakan seperti ini justru saling menghadapkan antar pemangku kekuasaan. Armuji adalah pejabat di bawah sistem pemerintahan Prabowo, seharusnya mencari solusi antar lembaga, bukan asal main konten demi viral,” tegasnya.
Menurut Kanisius, publik dapat membaca langkah tersebut sebagai upaya politisasi isu BBM, dan bahkan dapat dimaknai sebagai kritik simbolik terhadap kekuasaan Prabowo. Ia menyarankan pejabat publik fokus pada kerja nyata menyelesaikan masalah kerakyatan, bukan memancing opini publik lewat konten viral.
Sidak yang dilakukan Armuji sebelumnya dipicu oleh keluhan warga yang mengaku sepeda motornya “brebet” dan mogok setelah mengisi BBM jenis Pertalite di SPBU Rajawali. Saat sidak, Armuji sempat memperlihatkan sebuah botol plastik berisi cairan berwarna hijau dan bening yang diduga adalah Pertalite tercampur air.
Namun, pihak SPBU Rajawali membantah bahwa botol tersebut berasal dari tempat mereka.
Supervisor SPBU Rajawali, Budi Susetyo, menjelaskan bahwa pihaknya telah menelusuri rekaman kamera pengawas (CCTV) sepanjang hari kejadian. Hasilnya, tidak ditemukan pengendara yang membawa botol tersebut melakukan pengisian BBM di lokasi.
”Dari hasil rekaman CCTV, tidak ada pengendara yang mengisi BBM sambil membawa botol itu. Diduga, botol tersebut memang dibawa dari luar,” ujar Budi.
Budi menambahkan, pengendara yang membawa botol berisi cairan itu sempat menunjukkan isi botol kepada Wawali Armuji, namun kemudian langsung kabur tanpa jadi mengisi BBM. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa cairan dalam botol itu bukan berasal dari tangki SPBU Rajawali.

