Gresik,Seputarindonesia.net – Pengembang perumahan Maharaja Residence di Desa Bringkang, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, bergerak cepat melakukan berbagai langkah mitigasi untuk mengantisipasi genangan air dan banjir. Langkah ini diambil sebagai komitmen perusahaan dalam menjaga tata kelola lingkungan di tengah tantangan cuaca ekstrem.
Direktur PT Korona Wijaya Indonesia selaku pengembang Maharaja Residence, Adi Sucipto, menegaskan bahwa isu genangan air yang sempat muncul di kawasan tersebut bukan disebabkan oleh kesalahan konstruksi, melainkan faktor eksternal yang masif.
”Fenomena ini dipengaruhi oleh intensitas hujan yang sangat tinggi dalam waktu singkat serta dampak perubahan iklim global. Ini tidak hanya terjadi di kawasan kami, tapi juga di wilayah lain,” ujar Adi saat ditemui di lokasi, Kamis (26/2/2026).
Untuk memastikan kenyamanan penghuni, pihak manajemen telah mengimplementasikan sejumlah solusi teknis guna mempercepat pembuangan air, di antaranya:
Pengadaan Pompa Kapasitas Besar: Penyiapan empat unit pompa air untuk mempercepat dialirkannya air dari drainase menuju sungai terdekat saat debit meningkat.
Penguatan Infrastruktur Sungai: Pembangunan tanggul dan peninggian pondasi sungai di sekitar kawasan perumahan.
Elevasi Area Gerbang: Peninggian area gerbang (gate) utama untuk mencegah luapan air dari luar masuk ke area permukiman.
Normalisasi Berkala: Bekerja sama dengan pihak kelurahan, kecamatan, hingga Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk pembersihan sungai secara rutin.
”Kami melakukan evaluasi teknis menyeluruh agar sistem drainase bekerja optimal. Hasilnya positif, sejak 2025 genangan yang dulu butuh waktu lama untuk surut, kini hilang dalam hitungan jam,” tambah Adi.
Upaya mitigasi ini juga melibatkan peran aktif warga dan pemerintah setempat. Adi mengapresiasi budaya gotong royong warga dalam menjaga kebersihan saluran serta dukungan alat berat dari Kecamatan Menganti saat proses normalisasi.
Terkait isu sampah, Adi menjelaskan bahwa pihaknya rutin mengangkut sampah warga setiap dua hari sekali. Namun, ia tak menampik adanya kendala sampah kiriman dari wilayah hilir yang terkadang menyumbat aliran.
Dimas, salah seorang penghuni Maharaja Residence, mengakui adanya perubahan signifikan. “Dulu kalau ada genangan bisa berhari-hari. Sekarang hitungan jam sudah surut. Kami melihat developer sangat aktif mengambil tindakan,” ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum (Kasie Trantibum) Kecamatan Menganti, Anas Arofiq, menilai koordinasi dengan pengembang berjalan sangat baik.
”Developer sudah melakukan normalisasi. Masalah banjir ini tanggung jawab bersama, bukan satu pihak saja. Kami mencatat Maharaja Residence cukup cepat berkoordinasi, termasuk saat membantu evakuasi bersama BPBD pada tahun 2023 lalu,” jelas Anas.
Maharaja Residence berdiri di atas lahan seluas 4,5 hektare dengan total rencana 350 unit rumah. Saat ini, sekitar 200 unit telah terbangun dan 100 unit di antaranya sudah dihuni. Dengan harga mulai Rp 400 jutaan, perumahan ini menawarkan berbagai fasilitas unggulan:
Keamanan: One Gate System dengan sekuriti 24 jam.
Fasilitas Umum: Taman burung, playground, dan jogging track.
Infrastruktur: Jaringan listrik PLN, PDAM, dan internet.
Aksesibilitas: Dekat dengan gerbang Tol Sumo dan Tol KLBM (Krian-Legundi-Bunder-Manyar).
Melalui langkah mitigasi yang transparan ini, pengembang berharap calon penghuni dan masyarakat mendapatkan gambaran objektif mengenai kualitas hunian di Maharaja Residence.

