SURABAYA, Seputarindonesia.net – Pemerataan akses dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di daerah terus menjadi perhatian pemerintah. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dinilai memiliki posisi strategis dalam mendekatkan layanan medis kepada masyarakat, terutama setelah Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Jawa Timur menjadi salah satu provinsi dengan jumlah RSUD terbanyak di Indonesia. Tercatat sebanyak 79 rumah sakit milik pemerintah daerah tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Potensi tersebut diharapkan mampu menjadi kekuatan dalam memperluas jangkauan sekaligus meningkatkan standar pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Direktur Utama Kemenkes Surabaya, dr. Martha M.L. Siahaan, mengatakan keberadaan puluhan RSUD tersebut menjadi alasan penting perlunya sinergi dengan Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ASADA). Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat berbagai program peningkatan mutu pelayanan kesehatan.
Menurut Martha, RSUD merupakan fasilitas kesehatan yang relatif mudah dijangkau masyarakat setelah Puskesmas. Oleh sebab itu, rumah sakit daerah harus mampu memberikan pelayanan yang berkualitas, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
“Rumah sakit terbanyak di Republik ini ada di Provinsi Jawa Timur. Ada 79 RSUD di Jawa Timur. Mengapa kita menggandeng ASADA dalam program-program ini? Karena masyarakat yang paling mudah mencapai akses pelayanan kesehatan setelah Puskesmas adalah RSUD,” ujarnya kepada awak media.
Ia berharap seluruh RSUD di Jawa Timur dapat membangun kekuatan bersama, terutama dalam meningkatkan standar pelayanan dan memperbaiki berbagai kekurangan yang masih ditemukan di lapangan.
Martha juga menyoroti persoalan komunikasi antara rumah sakit dan masyarakat. Menurutnya, kemudahan memperoleh informasi serta menyampaikan pengaduan masih menjadi kebutuhan penting yang harus diperhatikan oleh setiap fasilitas kesehatan.
Ia mengungkapkan, keluhan masyarakat di media sosial masih banyak berkaitan dengan sulitnya menghubungi pihak rumah sakit maupun ketidakjelasan saluran komunikasi untuk memperoleh informasi pelayanan.
“Kalau kita lihat di media sosial, masyarakat sering mengeluh, susah menghubungi rumah sakit atau tidak tahu harus menghubungi siapa. Dengan pola seperti ini, kita bisa saling menguatkan. Sudah waktunya kita mendekat kepada masyarakat, akses itu harus dibuka,” jelasnya.
Mengenai kesiapan rumah sakit daerah dalam mendukung peningkatan pelayanan kesehatan, Martha melihat adanya perkembangan positif di sejumlah wilayah. Ia menilai berbagai pembenahan dan inovasi mulai dilakukan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien.
Meski demikian, ia menyebut penilaian teknis mengenai kesiapan seluruh rumah sakit merupakan ranah ASADA sebagai organisasi yang menaungi rumah sakit daerah.
“Kalau ditanya kesiapan rumah sakit dalam program ini, seharusnya ditanyakan kepada Ketua ASADA. Tapi saya melihat Jawa Timur sedang berkemas, sedang berbenah diri untuk memberikan yang terbaik,” ungkapnya.
Salah satu contoh pembenahan tersebut terlihat pada sejumlah fasilitas kesehatan di Sidoarjo. Martha menilai perubahan yang dilakukan Puskesmas maupun RSUD menunjukkan adanya komitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan.
Ia mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan yang perlu diselesaikan. Namun, proses perbaikan tersebut harus terus berjalan agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang semakin optimal.
Martha turut mengajak masyarakat agar tidak ragu menyampaikan kritik, saran, maupun pengalaman selama menerima pelayanan kesehatan. Masukan dari pasien dan keluarga dinilai menjadi bahan evaluasi penting bagi pengelola fasilitas kesehatan.
“Justru masyarakat harus sering memberikan feedback terkait pelayanan kesehatan di masing-masing daerah. Dari situ rumah sakit bisa mengetahui apa yang masih perlu diperbaiki,” tuturnya.
Selain meningkatkan kualitas layanan rumah sakit, Martha menegaskan bahwa arah pembangunan kesehatan harus lebih mengutamakan upaya pencegahan penyakit atau preventif.
Menurutnya, pelayanan kesehatan tidak semestinya hanya berfokus pada penanganan pasien setelah mengalami sakit. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan sejak dini harus menjadi bagian penting dari perubahan pola pelayanan kesehatan.
“The future of health care is today, not tomorrow. Jadi, pelayanan kesehatan ke depan harus dimulai hari ini,” tegasnya.
Ia menjelaskan, upaya preventif dapat diperkuat melalui berbagai program pemeriksaan kesehatan gratis yang melibatkan Puskesmas, rumah sakit, pemerintah daerah, serta pihak-pihak terkait.
Melalui kolaborasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin mudah mengakses pemeriksaan kesehatan dan mengetahui kondisi tubuhnya sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.
Martha menilai pencegahan merupakan langkah yang jauh lebih penting karena ketika seseorang sudah memasuki tahap pengobatan atau terapeutik, penanganannya berpotensi menjadi lebih rumit. Bahkan, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap aktivitas sehari-hari hingga produktivitas seseorang.
“Untuk peran rumah sakit sebenarnya sudah kita lakukan. Kita ingin menggaungkan bahwa masyarakat Indonesia harus nomor satu dalam menjaga kesehatan, terutama melalui upaya preventif atau mencegah sakit,” katanya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat membangun kebiasaan hidup sehat mulai dari lingkungan keluarga. Langkah sederhana seperti memperhatikan asupan makanan, menghindari rokok dan rokok elektronik (vape), serta rutin berolahraga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.
“Preventif itu nomor satu. Kalau sudah masuk ke tahap terapeutik atau sudah sakit, tentu penanganannya bisa lebih kompleks dan bahkan dapat mengganggu aktivitas maupun produktivitas,” pungkasnya.
Dengan penguatan sinergi antarrumah sakit daerah, peningkatan akses komunikasi, serta kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit, pelayanan kesehatan di Jawa Timur diharapkan semakin berkualitas, merata, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Editor : Bcl