HUT ke-2 RS Kemenkes Surabaya, Perkuat Layanan Stroke untuk Tekan Risiko Kematian dan Kecacatan

Reporter : HBSI

SURABAYA, seputarindonesia.net – Penyakit stroke menjadi salah satu layanan unggulan di Rumah Sakit Kemenkes Surabaya. Selain penyakit jantung, gagal ginjal, dan kanker, penanganan stroke terus diperkuat untuk menekan angka kematian serta kecacatan yang ditimbulkan akibat serangan stroke.

Momentum peringatan HUT ke-2 RS Kemenkes Surabaya menjadi kesempatan bagi rumah sakit untuk kembali mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya mengenali gejala stroke dan membawa pasien ke fasilitas kesehatan secepat mungkin.

Pasalnya, keterlambatan penanganan masih menjadi salah satu persoalan serius. Tidak sedikit masyarakat yang menganggap gejala awal stroke sebagai keluhan biasa, bahkan menyebutnya sebagai “angin duduk”.

Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha Muliana Lumogom Siahaan, S.H., MARS, M.H.Kes., menegaskan bahwa masyarakat harus segera mencari pertolongan medis ketika mengalami gejala yang mengarah pada stroke.

“Kalau tiba-tiba mengalami gejala seperti itu, jangan bilang angin duduk. Itu tanda-tanda stroke yang harus segera kita atasi. Kurang dari empat jam sudah harus sampai di rumah sakit,” tegas dr. Martha.

Menurutnya, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan dalam penanganan stroke. Semakin cepat pasien mendapatkan pertolongan, semakin besar peluang untuk meminimalkan risiko kematian maupun kecacatan.

Namun, kondisi di lapangan menunjukkan masih banyak pasien yang datang ketika sudah terlambat.

“Di sini rata-rata ada beberapa pasien yang datang dalam waktu kurang dari empat jam. Tapi di luar itu ada sekitar lima kali lipat yang datang terlambat. Ada yang sudah sehari, bahkan ada yang sampai 23 hari di rumah baru dibawa ke sini,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena keterlambatan membawa pasien ke rumah sakit dapat mempersempit kesempatan tenaga medis untuk memberikan penanganan secara optimal.

Sementara itu, Plt. Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Kemenkes Surabaya, dr. Adhy Nugroho, MARS, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kondisi sudah aman ketika gejala stroke tiba-tiba menghilang.

Menurutnya, gejala yang sempat muncul kemudian mereda bisa menjadi tanda Transient Ischemic Attack (TIA) atau serangan iskemik sementara yang tetap membutuhkan pemeriksaan medis.

“Jangan menganggap kalau gejalanya hilang berarti sudah sembuh. Itu bukan berarti penyakitnya sudah sembuh. Karena itu deteksi dini stroke harus terus dilakukan,” ujar dr. Adhy.

Untuk mempercepat penanganan pasien, RS Kemenkes Surabaya juga berupaya memangkas waktu pelayanan sejak pasien tiba di unit gawat darurat.

“Dalam waktu empat jam itu kita tangani. Pemeriksaan sampai obat kurang dari 30 menit. Jadi hasilnya bisa sangat ditekan dibandingkan pasien yang datang terlambat,” jelasnya.

Tak hanya fokus pada penanganan, RS Kemenkes Surabaya juga mendorong langkah pencegahan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Pemeriksaan kesehatan secara berkala, seperti pengecekan tekanan darah, kadar gula darah, dan profil kolesterol, dinilai penting untuk mengetahui sekaligus mengendalikan berbagai faktor risiko stroke sejak dini.

Masyarakat juga diminta mengenali tanda-tanda utama stroke, di antaranya perubahan pada wajah yang tidak simetris, kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh, serta gangguan bicara yang muncul secara tiba-tiba.

Jika gejala tersebut muncul, masyarakat diminta tidak menunggu gejala membaik dengan sendirinya. Pasien harus segera dibawa ke rumah sakit agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis secepat mungkin.

Semakin cepat stroke ditangani, semakin besar peluang pasien untuk terhindar dari risiko kecacatan maupun kondisi yang lebih fatal.

Editor : Bcl

Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru