Demo Front Anti Kapitalisme di Grahadi Berujung Ricuh, Massa Lempari Polisi dan Ancam Gelombang Aksi Lebih Besar

author Bcl

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

SURABAYA,Seputarindonesia.net – Aksi unjuk rasa yang digelar Front Anti Kapitalisme di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (26/6/2026), berakhir ricuh setelah massa terlibat bentrokan dengan aparat kepolisian. Sejumlah demonstran melempari petugas dengan berbagai benda hingga merusak pagar pembatas kompleks Grahadi, memaksa aparat bergerak membubarkan massa.

Situasi yang semula diwarnai orasi politik berubah memanas ketika malam mulai turun. Sesaat setelah azan Isya berkumandang, ketegangan yang sejak sore terus meningkat akhirnya pecah. Massa bergerak mendekati pagar Grahadi, melemparkan benda ke arah aparat yang berjaga di dalam area gedung negara.

Petugas Brimob kemudian melakukan tindakan pengamanan dengan mendorong massa menjauh dari lokasi. Dalam proses pembubaran tersebut, belasan peserta aksi diamankan untuk mencegah kericuhan meluas.

Demonstrasi itu merupakan lanjutan dari rangkaian aksi protes terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang beberapa hari terakhir berlangsung di Surabaya. Kali ini, massa membawa slogan “Indonesia Sekarat”, menggantikan narasi sebelumnya yang menyebut Indonesia tengah menuju krisis.

Juru Bicara Front Anti Kapitalisme, Septia Rahma, mengatakan perubahan slogan tersebut merupakan simbol kekecewaan mereka terhadap kondisi sosial dan ekonomi yang dinilai semakin membebani masyarakat.

“Kami menilai situasinya bukan lagi sekadar mengarah ke krisis, tetapi masyarakat sudah merasakan tekanan yang jauh lebih berat. Karena itu kami menggunakan istilah Indonesia Sekarat sebagai bentuk peringatan kepada pemerintah agar tidak terus mengabaikan suara rakyat,” ujar Septia kepada awak media.

Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar minyak dan kebutuhan pokok menjadi persoalan yang paling dirasakan masyarakat, termasuk pelaku usaha kecil.

“Saya sendiri sebagai pelaku UMKM merasakan dampaknya. Harga barang terus naik, daya beli pelanggan menurun, dan keluhan itu datang hampir setiap hari. Kondisi ini bukan hanya dialami pedagang, tetapi juga masyarakat kecil secara luas,” katanya.

Dalam aksi tersebut, Front Anti Kapitalisme menyampaikan 11 tuntutan kepada pemerintah. Di antaranya mendesak penurunan harga BBM dan kebutuhan pokok, pembukaan lapangan kerja yang layak, penghentian sejumlah program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, serta pencabutan Undang-Undang TNI dan Polri.

Selain itu, massa juga menuntut penghentian proyek reklamasi Surabaya Waterfront Land, pembebasan tahanan politik, peningkatan anggaran pendidikan dan kesehatan, penyediaan transportasi publik gratis yang inklusif, hingga perubahan sistem politik dan ekonomi yang dinilai lebih berpihak kepada masyarakat.

Dalam demonstrasi tersebut, massa turut membentangkan spanduk bertuliskan “Prabowo Kowarso”, sebuah istilah yang disebut sebagai meme khas Surabaya untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah.

Septia menjelaskan pemilihan istilah tersebut dilakukan agar pesan yang dibawa massa lebih mudah diterima masyarakat, khususnya warga Surabaya.

“Kami menggunakan bahasa yang dekat dengan arek-arek Suroboyo. Tujuannya agar kritik ini lebih mudah dipahami dan menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan yang belum terselesaikan,” ungkapnya.

Front Anti Kapitalisme menegaskan aksi di depan Grahadi bukan menjadi penutup rangkaian demonstrasi. Mereka mengaku akan terus menggelar aksi lanjutan apabila pemerintah tidak memberikan respons terhadap tuntutan yang disampaikan.

“Ini bukan aksi terakhir. Jika pemerintah tetap mengabaikan tuntutan rakyat, kami akan kembali dengan massa yang lebih besar dan tekanan aksi yang lebih kuat dibanding hari ini,” tegas Septia.

Koalisi tersebut menyebut sekitar 50 hingga 100 peserta mengikuti demonstrasi, terdiri dari mahasiswa, buruh, pelaku UMKM, kelompok pengangguran, serta sejumlah elemen masyarakat sipil lainnya.

Berita Terbaru

Santoso Utomo Akui Tak Tahu Dokumen Wire Rope dari Pemasok Tak Ber SNI Lengkap

Santoso Utomo Akui Tak Tahu Dokumen Wire Rope dari Pemasok Tak Ber SNI Lengkap

Kamis, 24 Sep 2026 12:49 WIB

Kamis, 24 Sep 2026 12:49 WIB

Santoso Utomo Akui Tak Tahu Dokumen Wire Rope dari Pemasok Tak Ber SNI Lengkap…

Bongkar Muat Peti Kemas Dipercepat, Simpul Logistik Darat Diminta Tak Jadi Titik Macet Baru

Bongkar Muat Peti Kemas Dipercepat, Simpul Logistik Darat Diminta Tak Jadi Titik Macet Baru

Kamis, 24 Sep 2026 12:32 WIB

Kamis, 24 Sep 2026 12:32 WIB

Kapasitas Pelabuhan Naik, Simpul Logistik Darat Diminta Ikut Diperkuat…

Satu Bulan Jadi Kurir, Pria di Surabaya Ditangkap Bawa 100,72 Gram Sabu

Satu Bulan Jadi Kurir, Pria di Surabaya Ditangkap Bawa 100,72 Gram Sabu

Rabu, 23 Sep 2026 20:05 WIB

Rabu, 23 Sep 2026 20:05 WIB

Seorang pria berinisial G.S. (35) diamankan setelah kedapatan menyimpan sabu dengan berat bruto mencapai 100,72 gram.…

Utang Obligasi BLBI Rp218,3 Triliun Lunas, Pemerintah Tutup Lembaran Krisis 1997-1998

Utang Obligasi BLBI Rp218,3 Triliun Lunas, Pemerintah Tutup Lembaran Krisis 1997-1998

Selasa, 22 Sep 2026 18:36 WIB

Selasa, 22 Sep 2026 18:36 WIB

Pemerintah resmi menuntaskan pembayaran utang obligasi BLBI kepada Bank Indonesia senilai Rp218,3 triliun.…

Terbongkar! Barang Impor yang Dilaporkan Ammonium Chloride Ternyata Berisi Ratusan Ton Beras dan Garam

Terbongkar! Barang Impor yang Dilaporkan Ammonium Chloride Ternyata Berisi Ratusan Ton Beras dan Garam

Selasa, 22 Sep 2026 18:16 WIB

Selasa, 22 Sep 2026 18:16 WIB

Bea Cukai Jawa Timur I bersama Bea Cukai Tanjung Perak mengungkap dugaan misdeclaration dalam importasi PT TI.…

PASTI Ada Solusi Jadi Ruang Aduan Warga, Menteri Hukum Soroti Kewarganegaraan hingga Bantuan Hukum

PASTI Ada Solusi Jadi Ruang Aduan Warga, Menteri Hukum Soroti Kewarganegaraan hingga Bantuan Hukum

Sabtu, 19 Sep 2026 11:17 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 11:17 WIB

Kementerian Hukum RI menggelar program “PASTI Ada Solusi” di Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Timur, Surabaya, untuk membuka ruang dialog dan pengaduan…