PONOROGO,Seputarindonesia.net – Dunia modeling tidak hanya berbicara tentang penampilan dan kemampuan berjalan di atas catwalk. Lebih dari itu, modeling dapat menjadi ruang untuk membangun kepercayaan diri, karakter, kemampuan komunikasi, hingga keberanian generasi muda untuk menunjukkan potensi terbaiknya.
Hal inilah yang selama lebih dari satu dekade menjadi perhatian Rhema Kartika Sari, Founder sekaligus Coach LS Model School Ponorogo. Berawal dari kecintaan terhadap dunia fashion dan modeling, Rhema mendirikan LS Model School pada 2010 sebagai wadah bagi anak-anak dan generasi muda Ponorogo untuk belajar sekaligus mengembangkan potensi diri.
Sejak berdiri hingga kini, LS Model School terus konsisten memberikan pembelajaran modeling dan pengembangan karakter. Sekolah modeling tersebut hadir tidak sekadar mencetak model yang mampu tampil menarik di atas panggung, tetapi juga membentuk pribadi yang percaya diri, memiliki attitude, serta mampu berkomunikasi dengan baik.
“Saya ingin modeling tidak hanya menjadi tempat anak belajar tampil. Lebih dari itu, saya ingin mereka mendapatkan bekal untuk menjadi pribadi yang percaya diri, berani, disiplin, dan mampu berkomunikasi dengan baik,” ujar Rhema.
Dalam proses pembelajaran, para siswa LS Model School dibekali berbagai kemampuan yang berkaitan dengan dunia modeling. Mulai dari teknik catwalk, public speaking, ekspresi, attitude seorang model, koreografi fashion show, hingga teknik foto model di depan kamera.
Menurut Rhema, setiap anak memiliki karakter dan potensi yang berbeda. Karena itu, proses latihan tidak hanya diarahkan untuk mengejar kemampuan tampil, tetapi juga membantu setiap siswa menemukan kelebihan dan kepercayaan dirinya.
“Setiap anak punya potensi masing-masing. Tugas kami adalah membantu mereka menemukan potensi itu, kemudian mengasahnya secara konsisten sampai mereka berani menunjukkan kemampuan terbaiknya,” ungkapnya.
Perjalanan panjang LS Model School pun telah membuahkan berbagai pencapaian. Sejumlah anak didik binaannya berhasil meraih penghargaan dalam berbagai ajang modeling, fashion show, hingga beauty pageant.
Prestasi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pembinaan yang dilakukan secara konsisten mampu membuka ruang bagi talenta-talenta muda Ponorogo untuk berkembang dan berprestasi.
Namun bagi Rhema, deretan trofi bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan.
“Bagi saya, keberhasilan terbesar bukan hanya ketika anak didik mendapatkan juara. Yang jauh lebih membanggakan adalah ketika saya melihat mereka yang awalnya pemalu kemudian berani tampil, berani berbicara, dan semakin percaya diri dengan dirinya sendiri,” tuturnya.
Dedikasi Rhema dalam membangun dan mengembangkan LS Model School juga mendapatkan berbagai apresiasi dan penghargaan. Pengakuan tersebut menjadi motivasi untuk terus memberikan ruang pembelajaran bagi generasi muda, khususnya di Ponorogo.
Lebih dari 14 tahun berjalan, LS Model School kini tidak hanya menjadi tempat belajar teknik modeling, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk membangun karakter dan mental.
Bagi Rhema, pengalaman tampil di atas panggung dapat menjadi bekal berharga bagi seorang anak ketika kelak menghadapi lingkungan pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial.
“Modeling mengajarkan banyak hal. Anak belajar disiplin, menghargai proses, bekerja sama, mengendalikan rasa gugup, dan berani tampil di depan orang lain. Nilai-nilai itu yang nantinya bisa mereka bawa ke kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Kini, Rhema bersama LS Model School terus membuka ruang bagi talenta-talenta muda Ponorogo untuk belajar, berkembang, dan menemukan panggung mereka sendiri.
Dengan pengalaman dan komitmen yang telah dibangun sejak 2010, Rhema membuktikan bahwa dunia modeling dapat menjadi lebih dari sekadar persoalan fashion dan penampilan.
Di balik setiap langkah seorang model di atas catwalk, terdapat proses panjang berupa latihan, kedisiplinan, keberanian, dan pembentukan karakter.
Dari Ponorogo, LS Model School terus menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya siap tampil di atas panggung, tetapi juga berani melangkah dan percaya pada potensi dirinya sendiri.
Editor : Bcl