SURABAYA,Seputarindonesia.net – Anggota DPRD Jawa Timur, Dr. H. Rasiyo, M.Si., mendorong pelestarian kesenian wayang kulit dengan melibatkan generasi muda secara aktif. Upaya ini dinilai penting untuk menjaga warisan budaya bangsa agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman dan derasnya pengaruh budaya asing.
Rasiyo yang merupakan anggota DPRD Jatim periode 2024–2029 dari Fraksi Partai Demokrat, Dapil Jatim 1 Surabaya, menilai wayang kulit bukan sekadar kesenian tradisional, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur dan pendidikan karakter.
Menurutnya, keberlangsungan wayang kulit membutuhkan perhatian serius, terutama karena minat generasi muda terhadap kesenian tradisional tersebut dinilai semakin berkurang.
“Budaya asli yang dimiliki bangsa dan negara ini harus kita lestarikan. Salah satunya wayang kulit. Kesenian ini perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, karena penggemarnya semakin berkurang,” ujar Rasiyo.
Ia mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) untuk menghadirkan inovasi dalam penyelenggaraan pertunjukan wayang kulit. Pengemasan acara perlu dibuat lebih kreatif dan menarik agar mampu menjangkau generasi muda tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang menjadi ciri khasnya.
Rasiyo juga mengusulkan agar pertunjukan wayang kulit di Taman Budaya membuka ruang partisipasi bagi anak-anak muda. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat terlibat dalam proses pembelajaran dan mengenal lebih dekat seni pewayangan.
“Generasi muda harus diberi kesempatan untuk mengenal dan mempelajari wayang kulit secara langsung. Dengan begitu, mereka tidak hanya mengetahui keseniannya, tetapi juga memahami nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya,” tuturnya.
Menurut Rasiyo, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menggelar pertunjukan semata. Diperlukan pendidikan, pembinaan, dan keterlibatan generasi muda secara berkelanjutan agar kecintaan terhadap kesenian tradisional tumbuh sejak dini.
“Jangan sampai wayang kulit hanya dikenal sebagai kesenian dari masa lalu. Kita harus memastikan kesenian ini tetap hidup, berkembang, dan diminati generasi sekarang maupun generasi mendatang,” tegasnya.
Pertunjukan wayang kulit tersebut diselenggarakan oleh Sekretariat DPRD Jawa Timur. Sekretaris DPRD Jatim, Ali Kuncoro, turut berperan dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Pelaksanaan kegiatan ini juga dikaitkan dengan momentum peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober, Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, serta Hari Pahlawan pada 10 November.
Rasiyo menilai momentum tersebut relevan untuk menumbuhkan kembali semangat persatuan, perjuangan, pengorbanan, dan kecintaan terhadap bangsa dan negara, terutama di kalangan generasi muda.
Nilai-nilai tersebut juga tercermin dalam cerita pewayangan yang mengajarkan keberanian, tanggung jawab, kesetiaan, serta perjuangan dalam menegakkan kebenaran. Karena itu, wayang kulit dapat menjadi sarana hiburan sekaligus media pendidikan karakter bagi masyarakat.
Melalui inovasi pertunjukan dan pelibatan generasi muda secara langsung, Rasiyo berharap wayang kulit tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Indonesia. Dengan demikian, warisan leluhur tersebut tidak hanya terjaga, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Editor : Bcl