SURABAYA, Seputarindonesia.net – Polemik terkait dugaan kebisingan yang berasal dari aktivitas olahraga padel di Atlas Sports Club, Jalan Dharmahusada Indah Barat III Surabaya, mulai menunjukkan titik temu. Upaya mediasi yang melibatkan warga, pengelola, serta pemerintah kota dinilai membuka jalan menuju penyelesaian yang lebih objektif dan konstruktif.
Dalam pertemuan yang difasilitasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya bersama Satpol PP, manajemen Atlas Sports Club menyatakan kesiapannya untuk memasang sistem peredam suara sebagai langkah mitigasi. Komitmen tersebut disampaikan meskipun hasil resmi pengukuran tingkat kebisingan dari DLH masih menunggu proses evaluasi.
Ketua RT 05 Dharmahusada Regency, Amanto Prayudisiono, mengatakan bahwa keberadaan lapangan padel merupakan bagian dari berkembangnya tren olahraga baru yang kini diminati masyarakat. Menurutnya, keluhan yang muncul lebih banyak berasal dari satu rumah yang posisinya berbatasan langsung dengan area lapangan.
“Dari yang saya ketahui, rumah yang paling dekat dengan lapangan memang merasakan dampaknya karena lokasinya berdempetan. Sedangkan rumah lainnya masih dipisahkan oleh jalan maupun jarak tertentu,” ujarnya, Senin (8/6/2026).
Amanto menjelaskan, sejak menerima keluhan warga, pihak Atlas tidak menutup diri. Bahkan, pengelola langsung merespons dengan menyatakan kesediaan memasang fasilitas peredam suara guna mengurangi dampak aktivitas olahraga tersebut.
“Pihak Atlas sejak awal menunjukkan itikad baik. Mereka meminta waktu untuk melakukan pemasangan peredam suara. Namun sebelum proses itu selesai, persoalan ini sudah berkembang ke berbagai pihak,” katanya.
Menurutnya, penilaian mengenai kebisingan harus mengacu pada standar yang berlaku dan tidak hanya berdasarkan persepsi individu. Karena itu, DLH melakukan pengukuran menggunakan perangkat khusus yang telah memenuhi ketentuan teknis.
“Penentuan suatu lokasi masuk kategori bising atau tidak harus berdasarkan data dan alat ukur resmi. Hasilnya nanti yang menjadi acuan bersama,” tegasnya.
Amanto juga mengungkapkan bahwa saat proses verifikasi lapangan, DLH sempat berencana menempatkan alat pengukur suara di dua titik, termasuk di area dalam rumah yang disebut sebagai lokasi paling terdampak. Namun rencana tersebut, menurut informasi yang diterimanya, tidak dapat terlaksana.
“Informasi yang saya peroleh, petugas awalnya ingin memasang alat di dalam rumah pada titik yang dianggap paling terganggu. Tetapi akhirnya pengukuran dilakukan dari luar karena pemasangan di dalam rumah tidak mendapatkan persetujuan,” ungkapnya.
Sebagai pengurus lingkungan, Amanto berharap seluruh pihak mengedepankan komunikasi dan memberikan ruang bagi proses yang sedang berjalan. Ia menilai langkah Atlas yang bersedia melakukan perbaikan patut diapresiasi.
“Kita semua hidup berdampingan dalam satu lingkungan. Jika ada keluhan, tentu harus dicari jalan keluar yang baik. Atlas sudah menunjukkan komitmen untuk melakukan perbaikan, sehingga sekarang tinggal menunggu hasil pengukuran dan efektivitas langkah yang dilakukan,” tuturnya.
Pandangan serupa disampaikan salah satu warga berinisial NG yang rumahnya berada tepat di depan area lapangan padel dengan jarak sekitar empat meter. Ia mengaku memilih bersikap objektif dan hanya menyampaikan kondisi yang dirasakannya sehari-hari.
“Kalau berada di teras atau ruang depan rumah memang suara aktivitas olahraga masih terdengar. Tetapi ketika berada di kamar bagian belakang, saya tidak lagi mendengar suara dari lapangan,” ujarnya.
Menurut NG, aktivitas olahraga tentu menghasilkan suara yang sulit dihilangkan sepenuhnya. Namun yang terpenting adalah adanya upaya untuk menekan tingkat kebisingan agar tetap berada dalam batas yang wajar.
“Mustahil menghilangkan suara sampai nol karena ini kegiatan olahraga. Yang penting ada usaha untuk mengurangi dampaknya sehingga tetap nyaman bagi lingkungan sekitar. Saya melihat Atlas cukup serius dalam hal itu,” katanya.
Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui musyawarah tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan. Selain menjadi olahraga yang sedang berkembang, padel juga dinilai memberikan dampak positif terhadap aktivitas sosial maupun ekonomi di lingkungan sekitar.
“Harapan saya sederhana, semua pihak bisa merasa nyaman. Warga tidak terganggu dan pengelola tetap bisa menjalankan usahanya. Solusi terbaik tentu yang menguntungkan kedua belah pihak,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan informasi yang berkembang di lingkungan setempat, upaya penggalangan dukungan melalui grup komunikasi warga untuk membuat petisi terkait keberadaan Atlas Sports Club disebut tidak memperoleh respons yang signifikan dari mayoritas anggota.
Kondisi tersebut memunculkan penilaian bahwa keluhan kebisingan lebih banyak dirasakan oleh pihak yang tinggal paling dekat dengan lapangan, sedangkan sebagian warga lainnya masih dapat menerima aktivitas olahraga tersebut sebagai bagian dari dinamika kawasan perkotaan.
Saat ini, hasil resmi pengukuran tingkat kebisingan yang dilakukan DLH Kota Surabaya masih dinantikan. Data tersebut diharapkan menjadi dasar objektif dalam menentukan langkah lanjutan sekaligus mengakhiri polemik yang berkembang di tengah masyarakat.
Di sisi lain, komitmen Atlas Sports Club untuk memasang peredam suara dan membuka ruang komunikasi dengan warga dinilai menjadi sinyal positif bahwa pengelola berupaya menjaga keseimbangan antara aktivitas olahraga dan kenyamanan lingkungan sekitar.
Editor : Bcl