Sidoarjo,Seputarindonesia.net – Lima hari pasca runtuhnya bangunan musala Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, para relawan dapur umum mulai merasakan kelelahan. Sejumlah ibu-ibu yang setiap hari bergantian memasak mengaku pegal hingga tekanan darahnya naik.
“Kami capek-capek, pegel semua, tapi tetap harus masak. Kasihan kalau ada yang nggak kebagian makan,” ungkap seorang relawan, Jumat (3/10).
Baca juga: Rekam Pawai Surabaya Vaganza, Remaja 15 Tahun Jadi Korban Pelecehan di Jalan Tunjungan
Keluhan sederhana itu akhirnya mendapat perhatian. Rombongan Partai Gerindra bersama tim Kesira (Kesehatan Indonesia Raya) datang dengan dukungan berbeda. Bukan beras atau lauk pauk, melainkan suntikan vitamin dan obat-obatan.
“Kalau korban dan keluarga korban insyaAllah sudah cukup banyak yang membantu. Tapi relawan, terutama ibu-ibu yang masak, jarang ada yang ingat. Mereka juga butuh dijaga kesehatannya,” ujar dr Benjamin Kristianto, anggota Komisi E DPRD Jatim dari Fraksi Gerindra.
[caption id="attachment_34172" align="alignnone" width="300"]
Dr. Benyamin Kristianto, anggota Komisi E DPRD Jatim dari Fraksi Gerindra.[/caption]
Sebanyak 100 ampul vitamin disiapkan khusus untuk para relawan dapur umum, petugas gotong royong, hingga pekerja lapangan. Dari dapur umum, tercatat sekitar 20 orang ibu-ibu setiap hari bergantian memasak untuk ratusan orang terdampak.
Baca juga: Pasien ICU Meninggal Saat Kebakaran Gedung PPJT RSUD dr Soetomo, Keluarga: Alat Bantu Tiba-Tiba Mati
“Kami siapkan lebih, supaya kalau ada yang lain butuh juga bisa terlayani,” imbuh Benjamin.
Bagi para relawan, bantuan itu bukan sekadar cairan vitamin. Ada penghargaan moral yang terasa: jerih payah mereka dilihat dan keringat mereka tidak diabaikan.
“Kita harus hargai mereka. Mereka rela meninggalkan keluarga, datang ke sini, membantu tanpa pamrih. Itu luar biasa,” lanjut Benjamin.
Baca juga: Pria Ditemukan Meninggal Mendadak di Taman Fasum Tengger Kandangan Surabaya
Rencananya, tim kesehatan akan kembali datang beberapa hari kemudian untuk memantau kondisi relawan. Jika muncul keluhan baru, mereka siap turun lagi.
“Relawan itu jiwa sosialnya tinggi. Mereka yang di dapur, yang gotong barang, bahkan teman-teman media yang ikhlas meliput. Semua butuh dukungan. Jangan sampai mereka tumbang,” tegas Benjamin.
Editor : Bcl